Blog
PELATIHAN MANAGEMEN PENGELOLA DAN PELATIHAN PEMASARAN LPS SE-INDONESIA
- 4 Maret 2020
- Posted by: Mediacom
- Category: Berita
Ratusan peserta Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) dari seluruh Indonesia mengikuti pelatihan manajemen pengelolaan angkatan I sampai dengan III, dan pelatihan Pemasaran angkatan I dan II yang dilaksanakan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Republik Indonesia (RI), dari tanggal 17 hingga 20 Februari 2020, di Hotel Horizon Ultima, Bekasi, Provinsi Jawa Barat (Jabar).
Pelatihan dibuka langsung oleh Menteri Tenaga Kerja RI Ibu Ida Fauziyah di Bekasi, Rabu (19/2), Narasumber pelatihan Robert Sitorus, mengatakan upaya menjadikan pelatihan LPKS bermutu tentunya harus ditopang dengan pengelolaan yang efektif dan kemampuan LPKS dalam membina jejaring kerjasama dengan stakeholder terkait, seperti dengan pemerintah, Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), lembaga mitra dan mampu melaksanakan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK).
“Pengelola mesti memahami dan mengaplikasikan tugasnya dalam menganalisis kebutuhan pelatihan, merencanakan program, pembiayaan, alokasi sumber daya pelatihan, menyelenggakan PBK efektif, koordinasi, jejaring kerjasama, dan rutin melakukan evaluasi, ini juga dalam menjawab kebutuhan dunia kerja yang makin kompetitif,” katanya, dalam materi yang disampaikan untuk angkatan II pelatihan manajemen pengelolaan.
Dijelaskan dia, pengelola perlu melakukan perubahan termasuk pola pikir dan selalu bersemangat dalam mengembangkan lembaga kursusnya, termasuk kemandirian agar tidak hanya tergantung dari bantuan pemerintah, perubahan dilakukan dalam meningkatkan kompetensi diri sebagai pengelola dalam membina LPKS masing-masing yang akan makin kuat dengan tiga pilar organisasi, yakni Puller, Core dan Support.
Hal ini sejalan dengan tugas pokok LPKS dalam menyelenggarakan pelatihan kerja untuk terwujudnya tenaga kerja yang terampil, produktif, dan kompetitif, sehingga dapat menghasilkan produk pelatihan kerja yang kompeten, memiliki keahlian (Skill), pengetahuan dan wawasan mumpuni (Knowledge) serta sikap yang profesional (Attitude) atau biasa disingkat dengan “SKA”, ditambah pengalaman kerja di DUDI yang akhirnya tenaga kerja dapat ditempatkan di DUDI maupun berwirausaha.
Narasumber kedua Bayu Priantoko, mengatakan dalam manajemen jejaring sesuai dengan tujuan akhirnya tak lain adalah kerja sama atau koordinasi yang harmonis antar bagian atau mengkombinasikan unsur-unsur atau bagian-bagian, menghasilkan keluaran atau output yang lebih bermutu, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, lebih baik dan lebih besar.
Menurut dia, beberapa bentuk kerjasama yang dilakukan oleh lembaga pelatihan dengan stakeholder dalam meningkatkan pertukaran informasi, khususnya dalam tukar menukar informasi perkembangan teknologi yang terkait dengan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri, untuk mendukung kegiatan bisnisnya.
“Teknologi dan jaringan Informasi, harus dapat dioptimalkan sejauh mungkin agar informasi dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya, khususnya dalam pengembangan pelatihan di lembaga pelatihan untuk meningkatkan mutu pelatihan,” katanya.
Setelah mengikuti Pelatihan ini, ternyata banyak hal yang perlu kami benahi dan kami kembangkan lagi, kami termotivasi untuk menjadikan lembaga kami terus meningkat dan maju, terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kemnaker RI atas pelatihan yang diberikan serta para narasumber yang tulus dalam melatih, pengetahuan yang diperoleh juga akan kami tularkan kepada LPKS di daerah kami masing-